Pengalaman Menggunakan Telkomsel Carrier Billing (TCB)


Lain dulu, lain sekarang. Awal-awal pegang smartphone itu sekitaran tahun 2011. Daftar aplikasi di smartphone tentu saja gak ada sama sekali aplikasi berbayar. Selain karena rasanya sayang banget kalau harus keluar uang buat beli aplikasi, cara pembayarannya pun tidak ramah untuk masyarakat golongan menengah ke bawah yang boro-boro punya kartu kredit, isi ATM aja jarang bersisa kalau udah tanggal tua. Haha…

Tapi perkembangan aplikasi dan isi kontennya yang hilir mudik di Google Play Android makin lama semakin banyak dan bervariasi. Mulai juga tanya kanan kiri soal pihak ketiga yang bisa bantu soal pembayaran ini.

Pertama kali beli itu adalah stiker Line. Dulu beli koinnya teteup aja harus pake kartu kredit yang buat saya pribadi males banget deh bikinnya, mending kalau tiap bulan bayarnya tepat waktu. Kalau telat? Hih… makin hari makin gede itu nominalnya. Jadilah saya menggunakan si pihak ketiga untuk membeli stiker Line yang saya inginkan. Lumayan ribet sih. Harus ngobrol dulu (bete nunggu lama kalau doi gak bales-bales), transfer via ATM, baru deh itu stiker dikirim. Perjuangan banget ga sih? Hihi…

Nah, makin happy waktu tahu Telkomsel bisa beli stiker Line dengan potong pulsa. Sempet kepikiran juga, “sekalian aja sih bisa beli aplikasi di Google Play.”

Dan eng.. ing.. eng.. beberapa waktu yang lalu Telkomsel menerapkan carrier billing-nya di Google Play. Yay!

Untuk yang ingin tahu, ini nih langkah-langkah untuk melakukan Telkomsel Carrier Billing (TCB): Continue reading

Es Loli Semangka


Berhubung Posterous akan ditutup pertanggal 31 April 2013, gue mau mindahin satu-satunya postingan gue disana daripada nanti hilang tanpa bekas. Silakan dinikmati~

Watermelon_Popsicles.jpg.scaled1000

Sepotong es loli semangka kuambil dari lemari pendingin rumahku. Saat ini, cuaca sedang panas-panasnya. Dengan lincah aku kembali menuju bangku di halaman belakang rumahku. Di sana, Evan tengah duduk dengan Continue reading

05:59 pm


Kemampuan yang tidak seperti orang normal ini mulai menggangguku. Aku kini harus lebih berhati-hati jika berbicara dengan seseorang, apakah dia nyata atau tidak nyata. Aku kini sama sekali tidak bisa memejamkan mata apabila penerangan dalam kamarku gelap, dan yang paling parah adalah karena aku selalu bermimpi buruk tiap malam mengenai hal yang kulihat di dunia nyata.

Hal ini tidak terjadi sedari aku kecil dan masa kecilku normal-normal saja. Kemampuan itu bermula ketika peristiwa antara hidup dan mati menimpaku saat aku berumur lima belas tahun. Saat itu bus sekolah yang biasa kunaiki meluncur masuk ke dalam jurang dengan ketinggian sepuluh meter. Beruntung aku dapat selamat karena tertahan oleh sabuk pengaman yang menjeratku agar tetap di tempat. Pada saat itu badanku terbentur oleh suatu benda –yang kebetulan sama sekali tidak aku ingat- dan menyebabkan pendarahan pada organ dalam tubuhku. Dokter yang membedahku terpaksa menghentikan jantungku sesaat, agar mereka bisa mengoperasi dan menyembuhkanku. Satu menit enam belas detik. Itu adalah lama waktu disaat aku mati.

Continue reading

Promise


Semburat berwarna-warni tampak menghiasi langit senja yang dihiasi oleh awan-awan. Beberapa burung beterbangan melintasi langit di atas kepala Intan dan Tian ke suatu tempat di balik pepohonan tak jauh dari pantai. Burung tersebut sepertinya tahu, bahwa disaat seperti sekarang ini adalah waktunya pulang dan bertemu kembali dengan sanak keluarganya. Suara nyaring dari burung tersebut bersatu membentuk sebuah harmoni indah bersama dengan deburan ombak yang secara berkala membentur dinding karang.

Intan dan Tian meresapi pemandangan itu sambil terus menatap laut dari pinggir pantai. Celana khaki Intan yang senada dengan pasir pantai kini mulai basah terkena air laut pasang, tapi ia tetap bergeming dan terus menatap matahari yang perlahan-lahan mulai menghilang. Mereka berdua duduk di pinggir pantai sambil memeluk lututnya masing-masing.

Tian menatap Intan, “Aku… mau bilang sesuatu sama kamu.”

“Hmm… apa?” Jawab Intan pelan.

“Besok aku pindah, Tan.” Bisik Tian.

Continue reading

#8 Code


Tulisan sebelumnya: Under The Sky

Serafin baru kali ini melihat benar-benar kamarnya. Sebuah kamar di akademi sihir Incarnia itu berukuran empat kali empat meter dengan sebuah atap tinggi. Dua pasang jendela kaca berbingkai kayu oak yang dicat cokelat tua ditempatkan di sisi kiri dan kanan sejajar dengan sepasang tempat tidur di dalam ruangan itu. Dinding berwarna kuning pucat tampak kosong tanpa sebuah figura foto satupun. Serafin tidak memiliki cukup waktu untuk membereskan semua foto kenangan dalam album foto yang disimpan oleh ibunya dulu. Saat Travesh memintanya untuk datang ke asrama, ia langsung menyetujui ajakan itu dan hanya membawa barang seadanya saja. Rumahnya di Incarnia bagian utara, Isladea, kini benar-benar tidak terawat dan ditinggalkan begitu saja.

Kedua orang tuanya adalah penyihir tingkat tinggi. Tetapi mereka justru meninggal karena pada menyelamatkan seorang anak kecil yang akan tertabrak sebuah bus. Dengan keahlian mereka, bukan hal sulit untuk menghentikan bus itu dengan sihir. Tetapi mereka lebih memilih cara manusiawi, cara yang menurut Serafin lucu.

Di malam itu, Serafin sengaja membuka lebar-lebar tirai jendelanya dan tidur terlentang menghadap langit tanpa bintang. Lampu kamarnya sengaja ia biarkan gelap, agar cahaya bulan purnama masuk dan menyinarinya. Ia teringat pada sebuah kalimat dalam surat yang diberikan oleh Ayrish. Continue reading

#7 Under The Sky


Tulisan sebelumnya: Balas Kangenku, Dong!

“Apa kamu tahu? Berada dekat denganmu sudah menjadi kebiasaan baru untukku.” Ucap Luna sambil ikut berbaring diatas rumput hijau bersebelahan dengan Serafin.

Serafin tertawa lepas. Baru beberapa hari yang lalu Luna mengatakan bahwa ia adalah musuhnya dan datang untuk membunuhnya. Tapi entah mengapa, Serafin justru merasakan hal yang berlawanan. Seolah-olah Luna datang untuk membantunya. Untuk menjadi temannya. Padahal selama beberapa tahun ini Serafin tidak pernah mempunyai teman satupun, semua menghindar saat Serafin berada di dekat mereka seperti sebuah virus berbahaya. Aneh juga dengan bagaimana cara ia memperlakukan Luna. Mungkin karena ia tahu bahwa mereka bermusuhan, maka suatu waktu mereka pun akan kembali pergi. Saling menjauh dan melupakan.

Serafin menatap langit biru yang jauh di atas kepalanya. Hari ini awan tersusun seperti sekumpulan biri-biri yang sedang berbaris. Di sebelahnya, Luna pun menatap langit yang sama.

“Beritahu aku. Apa mimpimu, Luna?” Tanya Serafin tiba-tiba.

Luna menutup perlahan kedua matanya sambil menggeleng perlahan, “Mimpiku… memang seperti halnya mimpi. Tidak akan bisa kuwujudkan, hanya bisa kulihat hanya dalam tidurku.” Continue reading

You Are the Ultraman on My Eyes


Tulisan ini dibuat untuk #MelodiHijauOranye @YUI17Melodies dengan tema lagu Green a.live

20 September 2007

Aku memasuki halaman sekolahku di jalan Ir. H. Juanda, cuaca Bogor hari ini lumayan cerah. Beberapa genangan bekas hujan kemarin malam masih membasahi beberapa tempat di lapangan basket depan sekolahku. Aku memalingkan wajah dan kembali berjalan menuju ruang kelasku. Aku kagum pada mekanisme kerja planet ini. Air hasil hujan besar kemarin malam bisa hilang dalam beberapa hitungan jam saja. Padahal air hujan yang kemarin mengisi kolam renang tetanggaku saja, belum hilang dan mengalir pergi. Jika bumi diibaratkan sebuah monster besar, perut bumi mungkin sudah besar dan buncit berisi semua air hujan yang ditumpahkan tadi malam. Lalu untuk mencegah monster itu mengacau, Ultraman akan datang dan menentramkan kembali kehidupan seperti biasa. Oh iya, kira-kira mengapa ya Ultraman setelah membuat babak belur musuhnya selalu membawanya terbang ke luar angkasa dan membuangnya disana? Iyuh… luar angkasa itu sepertinya jadi tempat sampah pembuangan terakhir monster-monster.

Lamunanku tergugah saat sebuah tangan mendarat di atas kepalaku. Tangan itu mencengkram kepalaku kuat lalu kemudian menggoyang-goyangkannya.
Continue reading