Tulisan sebelumnya: Balas Kangenku, Dong!
“Apa kamu tahu? Berada dekat denganmu sudah menjadi kebiasaan baru untukku.” Ucap Luna sambil ikut berbaring diatas rumput hijau bersebelahan dengan Serafin.
Serafin tertawa lepas. Baru beberapa hari yang lalu Luna mengatakan bahwa ia adalah musuhnya dan datang untuk membunuhnya. Tapi entah mengapa, Serafin justru merasakan hal yang berlawanan. Seolah-olah Luna datang untuk membantunya. Untuk menjadi temannya. Padahal selama beberapa tahun ini Serafin tidak pernah mempunyai teman satupun, semua menghindar saat Serafin berada di dekat mereka seperti sebuah virus berbahaya. Aneh juga dengan bagaimana cara ia memperlakukan Luna. Mungkin karena ia tahu bahwa mereka bermusuhan, maka suatu waktu mereka pun akan kembali pergi. Saling menjauh dan melupakan.
Serafin menatap langit biru yang jauh di atas kepalanya. Hari ini awan tersusun seperti sekumpulan biri-biri yang sedang berbaris. Di sebelahnya, Luna pun menatap langit yang sama.
“Beritahu aku. Apa mimpimu, Luna?” Tanya Serafin tiba-tiba.
Luna menutup perlahan kedua matanya sambil menggeleng perlahan, “Mimpiku… memang seperti halnya mimpi. Tidak akan bisa kuwujudkan, hanya bisa kulihat hanya dalam tidurku.” Continue reading →